Sabtu, 29 Mei 2021

PAPER EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN

 Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan,   Mei 2021

POTENSI DAN PEMANFAATAN TANAMAN AREN

 (Arenga pinnata) DIHUTAN KEMASYARAKATAN 

AIK BUAL KABUPATEN LOMBOK TENGAH


Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:

Winda

191201045

HUT 4 C



 






PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021



KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan rahmat kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Adapun paper ini yang berjudul “Potensi dan Pemanfaatan Tanaman Aren (Arenga pinnata) Dihutan Kemasyarakatan Aik Bual Kabupaten Lombok Tengah”, paper ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan paper ini, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan yaitu kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. yang telah mengajarkan materi dengan baik. Begitu juga kepada para asisten yang membantu dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan paper dengan baik.

Penulis sadar bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dan dapat membantu penulis demi penyempurnaan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan ini. Akhir kata, semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.



Medan,     Mei 2021



Penulis         




BAB I 

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) merupakan bagian dari ekosistem hutan yang memiliki peran terhadap alam maupun terhadap manusia. HHBK telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain karena beberapa jenis HHBK mudah diperoleh dan tidak membutuhkan teknologi yang rumit untuk mendapatkannya juga karena HHBK dapat diperoleh secara gratis dan mempunyai nilai ekonomi yang penting. Hal ini menjelaskan bahwa keberadaan HHBK diyakini paling bersinggungan dengan kepentingan masyarakat sekitar hutan dalam memenuhi kebutuhan pangan, papan maupun ritual dan lainya. Salah satu HHBK yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan salah satu sumber pencaharian masyarakat pedesaan adalah Arenga pinnata atau yang dikenal dengan enau atau aren (Suhesti dan Hadinoto, 2015).

Tanaman aren (Arenga pinnata) merupakan tanaman perkebunan yang potensial untuk dibudidayakan pada masa yang akan datang. Tanaman aren ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena memiliki banyak manfaat. Tanaman aren dapat dimanfaatkan sebagai penghasil nira, sumber energi terbaru berupa bioetanol, sumber karbohidrat, bahan campuran makanan dan minuman, dan sebagai tanaman konservasi untuk lahan kritis. Tanaman aren atau biasa disebut enau merupakan tanaman yang menghasilkan bahan-bahan industri sejak dahulu. Tanaman ini kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan atau dibudidayakan secara sungguh-sungguh oleh berbagai pihak. Selama ini permintaan produk yang berbahan baku dari tanaman aren masih dipenuhi oleh masyarakat yang mengelola atau memanfaatkan potensi dari tanaman aren dengan baik (Febriyanti et al., 2017).

Tanaman Aren (Arenga pinnata) merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai fungsi ekologis yang tinggi dan mudah dibudidayakan untuk mendukung perekonomian masyarakat. Persebaran tanaman aren di wilayah Nusa Tenggara Barat meliputi hampir seluruh wilayah baik itu di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa dengan total luas 966,3 Ha dan total produksi 211,3 ton. Persebaran aren terbesar di wilayah NTB ada di pulau Lombok yang mencapai luas 823,1 ha yang meliputi wilayah Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah dan Mataram. Salah satu Kabupaten di Pulau Lombok yang memiliki potensi aren yang cukup rendah jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Lombok Tengah. Potensi aren di kabupaten ini mencapai jumlah 125,4 ha dan total produksi 4,7 ton pada tahun 2015 (BPS NTB, 2015).

Desa Aik Bual merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan Tanaman Nasional Rinjani dan saat ini memiliki potensi tanaman aren yang dimanfaatkan oleh masyarakat guna meningkatkan perekonomian. Pengembangan tanaman aren di desa ini masih mengandalkan permudaan alami dengan memanfaatkan anakan tanaman yang tumbuh secara alami dan bergerombol di sekitar tanaman induk, akibatnya jarak-jarak tanam anakan tidak beraturan. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan produktivitas tanaman aren menjadi rendah dan secara langsung akan berpengaruh terhadap nilai ekonomi yang diperoleh oleh masyarakat yang ada di daerah Aik Bual (Webliana dan Rini, 2020).

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik dari Aren (Arenga pinnata)?

2. Bagaimana potensi persebaran dan produktivitas tanaman aren (Arenga pinnata) di kawasan HKm Aik Bual?

3. Bagaimana potensi dan pemanfaatan ekonomi dari Aren (Arenga pinnata) yang ada di Kawasan HKm Aik Bual?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui karakteristik dari Aren (Arenga pinnata).

2. Untuk mengetahui potensi persebaran dan produktivitas tanaman aren (Arenga pinnata) di kawasan HKm Aik Bual.

3. Untuk mengetahui potensi ekonomi dan pemanfaatan dari Aren (Arenga pinnata) yang ada di Kawasan HKm Aik Bual.


BAB II 

ISI


2.1 Karakteristik Aren (Arenga pinnata)

Pohon aren merupakan pohon berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Tanaman aren diklasifikasi dalam kingdom Plantae, divisio Magnoliophyta, kelas Liliopsida, ordo Arecales, famili Arecaceae, genus Arenga, species Arenga pinnata. Buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal. Pohon enau dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang. Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin  yang ada di sisi bawahnya (Sebayang, 2016).

2.2 Potensi persebaran dan produktivitas tanaman aren (Arenga pinnata) di    Kawasan HKm Aik Bual

Luas kawasan hutan Aik Bual yang menjadi fokus perhatian Kelompok Tani Hutan (KTH) Aik Bual adalah 420 Ha. Beberapa dusun yang langsung berbatasan dengan hutan diantaranya Dusun Pertanian dan Dusun Nyeredet dimana sebagan besar masyarakatnya memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap hasil hutan sehingga aktivitas masyarakat untuk mengelola lahan didalam kawasan hutan cukup tinggi. Berdasarkan hasil inventarisasi potensi tanaman yang dilakukan ditemukan perjumpaan tanaman aren di HKm Aik Bual yaitu 433 yang tersebar di Dusun Nyeredet dan Dusun Pertanian. Hasil identifikasi persebaran tanaman aren diperoleh tanaman aren yang belum produktif sejumlah 81,99%, tanaman aren hampir produktif 3,46%, tanaman aren sudah produktif 12,47% dan tanaman aren sudah tidak produktif 2,08%. Tanaman aren yang belum produktif dicirikan dengan anakan yang belum memiliki tandan, tanaman aren hampir produktif dicirikan dengan adanya tandan pada tanaman aren namun belum dilakukan proses penyadapan. Sedangkan tanaman aren yang masuk dalam kategori produktif dicirikan dengan adanya tandan dan telah dilakukan proses penyadapan.

Tanaman aren yang tersebar di seluruh Kawasan HKm Aik Bual berkembangbiak dengan permudaan alami. Permudaan alami adalah suatu proses ekologis yang memiliki peranan yang cukup besar terhadap pembentukan struktur dan komposisi jenis tegakan hutan dimana. Permudaan suatu vegetasi di dalam kawasan hutan berkorelasi dengan kemampuan tanaman terebut bertoleransi dengan kondisi lingkungan. Jenis tumbuhan dominan yang melakukan permudaan alami merupakan jenis yang mempunyai toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan yang beragam. Pengembangan tanaman aren di HKm Aik Bual pada umumnya belum dibudidayakan secara massal. Petani masih mengandalkan tanaman yang tumbuh secara alami dan memanfaatkan anakan dibawah tanaman aren yang tumbuh bergerombol dengan jarak tanam yang tidak beraturan serta pemeliharaan yang kurang intensif. Hal ini menyebabkan tingkat produktivitas lahan dan tanaman aren rendah yang menyebabkan pendapatan petani rendah.

2.3 Potensi ekonomi dan pemanfaatan dari Aren (Arenga pinnata) yang ada di Kawasan HKm Aik Bual.

Aren atau enau (Arenga pinnata) merupakan salah satu tumbuhan perkebunan jenis palma yang memiliki potensi nilai ekologi dan ekonomi tinggi. Hampir semua bagian pohon aren bermanfaat dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bagian fisik (akar, batang, daun, ijuk) maupun hasil produksinya (air nira, pati/tepung dan buah). Tumbuhan aren dapat dijadikan sebagai tumbuhan obat yang mempunyai banyak manfaat bagi tubuh maupun sebagai tumbuhan yang memiliki fungsi konservasi. Adapun jenis pemanfaatan tanaman Aren (Arenga pinnata) oleh masyarakat yang ada di sekitar kawasan Aik Bual yaitu sebagai berikut:

a) Air Nira

Air nira merupakan bahan pokok pembuatan gula aren ini dihasilkan dari penyadapan tongkol bunga jantan. Jika yang disadap tongkol bunga betina, maka akan diperoleh nira yang tidak memuaskan baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Setiap tongkol bunga jantan dapat disadap selama 3-4 bulan, yaitu sampai tongkolnya habis atau mengering. Masyarakat desa Aik Desa Aik Bual memanfaatkan air nira sebagai bahan dasar pembuatan gula aren. Setiap harinya air nira disadap sebanyak dua kali yaitu pada pagi dan sore hari dengan rata-rata jumlah yang disadap dalam satu pohon yaitu 3 mayang dengan produktifitas hasil sadapan untuk satu hari berkisar 20-25 liter.Jumlah produktifitas hasil sadapan bergantung pada usia tanaman dan jumlah frekuensi penyadapan yang telah dilakukan pada tanaman tersebut. Nira hasil sadapan selama periode ini, mula-mula jumlahnya sedikit kemudian jumlahnya meningkat sampai pertengahan masa sadap dan akhirnya kembali jumlahnya sedikit.

b) Gula Aren

Gula aren termasuk dalam jenis gula pada umumnya. Hanya yang membedakan adalah gula aren memiliki rasa manis yang sangat tajam dibandingkan gula tebu atau yang biasa dikenal sebagai gula pasir. Gula aren dapat digunakan dalam berbagai jenis makanan dan minuman, seperti kopi, teh, susu, coklat, sereal, bubuk kacang ijo dan jenis pangan lainnya. Ada berbagai macam hasil pengolahan gula aren seperti Gula Cetak, Gula Semut, Gula Kristal, dan palm wine dari Aren. Namun sejauh ini pengolahan gula Aren yang dilakuakn oleh masyarakat hanya terbatas pada Gula Semut dan Gula Cetak yang dikelola dengan peralatan yang masih tradisional.

c) Kolang Kaling

Kolang kaling adalah biji aren yang lunak dan kenyal berasal dari buah yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Kolang kaling yang dalam bahasa Belamda biasa disebut glibbertjes, dibuat dari biji pohon aren (Arenga pinnata) yang berbentuk pipih dan bergetah. Untuk membuat kolang kaling, para pengusaha kolang kaling biasanya membakar buah aren sampai hangus, kemudian diambil bijinya untuk direbus selama beberapa jam. Pengambilan kolang-kaling dianjurkan pada pohon yang tidak produktif, karena pengambilan kolang-kaling pada pohon yang produktif mengganggu kondisi pohon aren, yaitu mengurangi kadar gula nira. Masyarakat Desa Aik Bual mengolah buah kolang-kaling dengan cara direbus kemudian dibelah satu persatu secara manual. Buah tersebut kemudian direndam dalam larutan kapur selama 2 hari lalu dicuci sampai bersih. Harga jual buah kolang kaling ini dijual dengan sistem borong yaitu jika 1 tanaman aren memiliki lebih dari 10 tandan maka dijual dengan harga Rp 300.000,00. Sedangkan jika kolang-kaling melewati proses perebusan oleh petani maka harga jual menjadi Rp 12.500,00 /kg.

d) Ijuk

Ijuk dihasilkan dari pohon aren yang telah berumur lebih dari 5 tahun dan dapat dipanen sampai dengan umur sekitar 10 tahun. Ijuk sebenarnya merupakan bagian pelepah daun yang menyelubungi batang. Proses Pengambilan ijuk dilakukan dengan cara memotong pangkal pelepah-pelapah daun, kemudian ijuk yang bentuknya berupa lempengan anyaman diambil dari dengan menggunakan parang. Lempengan anyaman ijuk yang telah diambil dari pohon, masih mengandung lidi. Lidi-lidi tersebut dipisahkan dari serat-serat ijuk dengan menggunakan tangan. Untuk membersihkan seratijuk dari berbagai kotoran dan ukuran serat ijuk yang besar, digunakan sisir kawat. Ijuk yang sudah dibersihkan dapat dipergunakan untuk membuat tali, sapu, atap, serat untuk ekspor, dan lain-lain.




BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

1. Tanaman Aren (Arenga pinnata) merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai fungsi ekologis yang tinggi dan mudah dibudidayakan untuk mendukung perekonomian masyarakat.

2. Pohon aren merupakan pohon berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun.

3. Tanaman aren yang tersebar di seluruh Kawasan HKm Aik Bual berkembangbiak dengan permudaan alami.

4. Persebaran tanaman aren diperoleh tanaman aren yang belum produktif sejumlah 81,99%, tanaman aren hampir produktif 3,46%, tanaman aren sudah produktif 12,47% dan tanaman aren sudah tidak produktif 2,08%.

5. Pemanfaatan Aren (Arenga pinnata) yang ada di sekitar kawasan Aik Bual yaitu air nira, gula aren, kolang kaling dan ijuk.

3.2 Saran

Sebaiknya masyarakat semakin meningkatkan produktivitas persebaran dari tanaman aren, agar dapat memanfaatkan potensi dari tanaman tersebut lebih luas lagi dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.



DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik NTB. 2015. Nusa Tenggara Barat dalam Data. NTB.

Febriyanti N ,Hikmat A, Ervial AM, Zuhud. 2017. Etnobotani Dan Potensi Aren (Arenga pinnata Merr.) Pada Masyarakat Kasepuhan Pasir Eurih, Desa Sindanglaya, Kabupaten Lebak, Banten

Manurung, D., Putri, L.A.P. & Bangun, M.K. 2013. Pengaruh Perlakuan Pematahan Dormansi Terhadap Viabilitas Benih Aren (Arenga pinnata Merr.) Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Jurnal Online Agroekoteknologi, 1(3):768-782.

Suhesti, E dan Hadinoto. 2015. Hasil Hutan Bukan Kayu Madu Salang di Kabupaten Kampar (Studi Kasus : Kecamatan Kampar Kiri Tengah). Fakultas Kehutanan Universitas Lancang Riau. 16-26

Webliana K, Rini DS. 2020. Potensi Dan Pemanfaatan Tanaman Aren (Arenga pinnata) Dihutan Kemasyarakatan Aik Bual Kabupaten Lombok Tengah. Agrohita Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan. 5(1):25-35.


PAPER EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN

 Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan,   Mei 2021 POTENSI DAN PEMANFAATAN TANAMAN AREN  ( Arenga pinnata ) DIHUTAN KEMASYARAKATAN  AIK BU...